Apa yang terlintas oleh anda saat mendengar kata ‘pasar’? Dan apa yang terbayang oleh anda tentang pasar tradisional di Indonesia?
Keberadaan pasar tidak dapat dipisahkan dari kehidupan saya. Itulah alasan mengapa saya ingin menuliskannya menjadi sebuah catatan sejarah yang penting.
Pasar adalah tempat berlangsungnya proses jual beli antara penjual dan pembeli. Pasar juga merupakan salah satu tempat vital yang harus ada di suatu daerah selain dari kantor desa, sarana pelayanan kesehatan, tempat ibadah, sarana pendidikan, dan yang lainnya, karena di tempat inilah berbagai keperluan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari dapat ditemukan. Pasar juga memegang peranan penting dalam perputaran roda ekonomi masyarakat di suatu daerah khususnya tingkat menengah ke bawah. Selain itu, keberadaan pasar menjadi salah satu tempat sebagai sumber mata pencaharian bagi yang bekerja sebagai wirausaha/pedagang.
Pasar identik dengan tempat yang tidak nyaman untuk berbelanja, becek, kumuh, dan bau sampah bagi sebagian besar kalangan. Keberadaan pasar pun kadang menimbulkan kemacetan dan kesemrawutan jalur lalu lintas. Namun, tahukah anda bahwa berbelanja di pasar memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan dengan berbelanja di supermarket atau mall-mall besar. Di pasar, pembeli dapat dengan bebas melakukan tawar-menawar atau bahasa kerennya melobi dan bernegosiasi dengan pihak penjual - tentunya disesuaikan dengan jenis barang yang ditawar. Walaupun tidak semua kualitas barang atau produk yang dijual di pasar dapat dikatakan baik, namun hampir dapat dipastikan berbelanja di pasar jauh lebih hemat dan murah, serta apapun barang yang dibutuhkan umumnya tersedia di tempat ini. Mulai dari kebutuhan untuk memasak seperti buah dan sayuran, sembako, daging, ikan, peralatan rumah tangga, makanan ringan dan berat, obat dan kosmetik, perhiasan, kelontongan, peralatan sekolah, alat dan bahan bangunan, alat listrik dan elektronik, hingga kebutuhan sandang sekalipun. Dan masih banyak lagi. Enaknya lagi jika kita sudah memiliki link toko atau kios sehingga kita menjadi pelanggan tetapnya begitupun sebaliknya. Biasanya lebih mudah menawar atau kita bisa melakukan pinjaman alias ‘nganjuk’ pada saat kepepet dan ketika bertemu musim lebaran dapat jatah THR (Tunjangan Hari Raya).
Walaupun demikian, berbelanja di pasar juga tidak luput dari kekurangan terutama faktor keamanan dan kenyamanan. Untuk itu, diperlukan ekstra kesabaran, kehati-hatian dan kewaspadaan pembeli. Hal lain yang menjadi penyebab mengapa pasar menjadi tempat tujuan belanja yang tidak menarik dan dipilih oleh masyarakat adalah karena biasanya pasar tidak mengadakan undian ataupun kupon berhadiah. Tidak seperti yang dilakukan oleh pusat perbelanjaan lainnya, seperti mall, supermarket, waralaba.
Pasar tradisional rasanya sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup saya. Betapa tidak, kurang lebih 18 tahun saya ikut menyelami suka duka orang tua saya dalam mengarungi kehidupan di beberapa pasar yang sudah dijajaki di tanah kelahiran saya. Tahun 1990-an orang tua saya memutuskan untuk berwiraswasta dengan menyewa sebuah kios di pasar Simpang –dekat dengan rumah saya dan mereka memutuskan untuk menjual barang dagangan berupa sandal, sepatu, dan tas. Setiap hari mama membawa saya untuk ikut serta ke pasar –ketika itu usiaku sekitar 4 tahun dan sejak itulah saya menjadi akrab dengan lingkungan pasar.
Belanja adalah salah satu tugas yang dibebankan kakak perempuan saya satu-satunya kepada saya setiap harinya. Jadinya, setiap hari menjelang sore, berbekal uang belanja saya pun pergi ke pasar yang jaraknya tak jauh dari rumah saya –namanya Pasar Simpang, ada juga yang menyebut Pasar Mentras. Lama kelamaan, saya pun menyukai kebiasaan ini –belanja ke pasar. Dan hal yang tidak bisa saya lewatkan ketika berbelanja di pasar adalah menawar harga. Tapi tentu saja tidak semua barang wajib ditawar.
Ketika saya bepergian ke suatu tempat yang baru saya kunjungi, pasar adalah tempat yang tidak boleh terlewatkan untuk saya kunjungi.
Pernah suatu ketika, selepas mendatangi stasiun untuk membeli tiket kereta api, berjalanlah saya dan satu orang teman saya menyusuri jejeran pedagang yang memanjang sepanjang jalan Kiara Condong. Saya memang berniat mencari suatu barang yang sudah jauh hari dipesan oleh sahabat saya yang tinggal di Yogyakarta berhubung disana barang ini tidak ditemukan. Akhirnya, saya mampir ke salah satu kios. Saya pun mencari barang yang dimaksud. Namun, tidak saya dapatkan juga, kalaupun ada berbeda model dan kesulitan mencari ukuran yang pas. Tetapi akhirnya saya tetap membeli juga sandal berbahan plastik yang lebih mirip seperti gabus –ringan dan nyaman, yang mana waktu itu sedang laku di pasaran –maklum barang buatan Cina murah dan cukup awet. Cukup 25 ribu saja sandal itu langsung saya bawa pulang ke Jatinangor sehabis perang harga dengan penjualnya.
Ada lagi alasan lain saya mengunjungi pasar Dangdeur dan pasar Cileunyi. Bukan untuk berbelanja makanan atau sayuran. Tapi, kedatangan saya bersama dua teman kampus saya adalah untuk berburu ‘orang gila’ tapi lebih tepatnya orang dengan gangguan kesehatan mental. Ini adalah tugas yang paling aneh sepanjang perkuliahan di kampus keperawatan yang diberikan oleh dosen yang paling saya kagumi. Namun, sayangnya tak satu pun target yang kami cari menampakkan diri. Kata para pedagang disana, “biasanya jam segini mah suka ngider.”
Beberapa daerah juga memilki keunikan tersendiri terkait dengan pasar tradisional. Misalnya, waktu berkunjung ke daerah Pakenjeng daerah yang hampir tak tercantum di peta, ternyata pasar ini beroperasi hanya satu kali dalam seminggu yaitu hari Minggu saja. Dan beruntungnya saya dan teman-teman saat itu, kami berbelanja tepat di hari Minggu. Sehingga acara masak-memasak pun dapat terlaksana.
Cerita lain yang juga tak bisa saya lupakan adalah berjalan-jalan di pasar Tagog Padalarang. Ketika itu saya dan beberapa teman Mu’allimin dalam rangka agenda kunjungan ke rumah salah satu teman di antara kami. Sumpah jalanan sangat macet. Angkot dan delman saling bersaing. Namun, yang menyenangkan adalah walaupun sudah mendekati jam malam (10-an), pasar ini masih saja rame dan banyak pengunjung. Memang kukira pasar ini areanya cukup besar. Hiruk pikuk sahutan para pedagang menawarkan barang dagangannya setiap kami lewat. Alunan musik dangdut dari para penjual VCD bajakan yang super kencang memekakkan telinga turut menghiasi keriuhan malam itu. Dan, akhirnya kami berhasil membawa pulang martabak manis sebagai pengganjal perut sementara.
Tak ketinggalan juga pasar Tanjungsari tak luput dari kedatangan saya, apalagi pasar ini jaraknya tidak begitu jauh dari tempat dimana saya berada. Dari Jatinangor cukup naik angkot coklat trayek Cileunyi-Sumedang selama kurang lebih 15-20 menit perjalanan. Saya sudah beberapa kali datang ke pasar ini. Tentunya untuk membeli barang yang saya butuhkan. Pasar ini ternyata cukup luas dan cukup bersih.
Rasanya tak lengkap jika mengunjungi kota Bandung tanpa singgah dulu ke pasar Baru. Pasar Baru merupakan pasar yang cukup terkenal di kota Bandung, pasalnya di tempat ini dapat ditemukan berbagai macam barang dengan harga eceran atau grosir. Barang-barang yang dijual pun cukup bervariasi dimulai dari pakaian jadi, kain, sepatu, sandal, tas, dan masih banyak lagi. Pokoknya sayang jika melewatkan berkunjung ke pasar ini. Apalagi jika hari libur dan menghadapi hari raya, benar-benar rame dan padat dengan orang-orang yang sedang berburu barang-barang yang dibutuhkannya. Tapi, terus terang saya jarang berbelanja barang dari tempat ini, maklum kondisi saku yang tidak mendukung. Paling sekali waktu pernah membeli kain dan kerudung untuk acara pernikahan teman saya waktu Mu’allimin dulu. Seringnya mengantar teman/keluarga atau hanya membeli kebutuhan non pribadi. Pun untuk sekedar jalan-jalan dan melihat-lihat saja. Dan harus mampu menawar harga becak, jangan sampai kemahalan.
Kota kelahiran saya pun tak ketinggalan punya cerita. Pasar Ciawitali yang berada tidak jauh dari lokasi terminal Guntur menjadi pemandangan tersendiri. Biasanya pada pagi hari pasar ini sangat rame oleh penjual makanan olahan dan sayuran yang masih segar. Namun, menuju siang hari suasana pasar terlihat sepi. Kondisi pasar ini kurang bersih dan nyaman, apalagi saat turun hujan, jalanan menjadi becek dan licin. Namun, saya bisa memilih sarana transportasi yang tersedia disini dengan tarif ongkos yang berbeda. Ada delman, becak, angkot, dan ojek. Tinggal pilih saja!
Bagi mahasiswa atau penduduk yang tinggal di Jatinangor, pasti tak asing dengan pasar kaget yang berlangsung setiap hari Minggu pagi hingga siang hari (sekitar pukul 06.00-13.00), yang terkenal dengan sebutan PAUN (kepanjangan dari Pasar Unpad). Sejarahnya sendiri, detailnya saya tidak cukup tahu. Namun, yang saya ketahui dinamakan Paun karena memang para pedagang berjualan di sekitar area kampus Unpad, mulai dari gerbang lama Unpad hingga gerbang baru Unpad. Barang-barang yang diperjualbelikan pun beragam. Mulai dari kebutuhan sandang (pakaian, sepatu, sandal, tas, dompet, alat-alat dapur dan rumah tangga, dan lainnya), kebutuhan pangan (sembilan bahan pokok, sayuran, buah-buahan, ikan tawar atau asin, daging, cemilan, kue-kue, dan lainnya), kebutuhan rekreasi dan hiburan (biasanya, sulap, sisingaan, odong-odong, naik kuda, dan lainnya), dan tak ketinggalan jika ingin berwisata kuliner, Paun bisa menjadi pilihan. Biasanya pengunjung yang datang kebanyakan mahasiswa/i juga penduduk dari daerah sekitar Jatinangor. Harga yang ditawarkan bervariasi, tidak begitu mahal, dan bisa tawar-menawar harga. Tapi adapula barang yang sudah memiliki harga pasaran yang tidak bisa ditawar lagi, seperti kaos kaki dengan harga Rp. 5000 dapat 3 pasang kaos kaki, atau ‘onderdil’ perempuan ditawarkan dengan harga Rp. 10.000 dapat 3. Dan masih banyak lagi. Selain itu, dari pukul 06.00-08.00 biasanya ada senam pagi di lapangan basket dekat GOR Padjadjaran yang dipimpin oleh seorang instruktur senam, cukup membayar Rp. 1000. Memang kawasan kampus Unpad ini, setiap hari Sabtu dan Minggu menjadi tempat yang cocok dan nyaman untuk berolahraga terutama lari pagi atau jogging. Tidak hanya itu, bermain badminton, basket, sepak bola dapat dilakukan disini, tentunya banyak area yang terbuka dan lapangan yang dapat digunakan untuk latihan. Namun, sayang sekali sejak tahun 2009 (tepatnya kapan, lupa) Paun harus dipindah tempatkan ke kawasan Unwim, tepatnya di lapangan Menara Loji (kalau namanya tidak salah ini). Alasan yang mendasari kepindahan itu pun saya tidak tahu. Entahlah, apakah nama PAUN berganti atau tidak?
Demikianlah tulisan saya kali ini. Masih agak kacau memang. Tapi mudah-mudahan menambah semangat bagi para pembaca untuk mengunjungi kawasan ini dibanding mall atau pun supermarket. Agaknya slogan ini cukup bijak “Mari kita gunakan produk-produk dalam negeri.” Saya berharap dapat mengunjungi pasar-pasar tradisional di seluruh Indonesia yang tentunya memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri. Hidup Pasar Tradisional!!!


